Mark Zuckerberg : How to Build the Future





Menurut pendapat diri saya (personal) saya membangun mimpi saya dengan gambar; media itu sudah tersedia di internet tinggal mengolahnya begitu rupa, sedangkan pwerwujudannya bukan hal yang sepele, tentu dengan apa yang ada pada diri saya dan sosial. Mengapa saya melibatkan manusia bukan hewan itu sisi yang tidak saya pahami. Berpidato mengemukakan inti semua persoalan yang berkembang atau persoalan yang sangat sulit bisa kita berunding atau berbicara dengan tanpa ada perbedaan negara dan agama karena itu sangat mempersulit dan menyiksa karena sesuatu yang mungkin tidak disadari atau tidak. Tapi saya sadar itu sangat menyulitkan seperti menyukil mata saya dua-duanya dan saya akan lawan itu dengan mengemukakan mengapa itu bisa terjadi. Apa mimpiku pertanyaan pribadi untuk semua orang? Saya manusai 100% tidak perfect tapi persoalannya adalah waktu saya dan waktu saudara dan saudari dalam mengemukakan itu berbeda pasti. Saya memang berfikir tentang masa depan dunia dan persepsi kecil saya ingin ditanggapi oleh manusia. Apa itu definisinya? Kemampuan di luar negeri sangat dihargai. Tapi disini saya bebas mengemukakan pendapat walaupun pahit. Ya pahit itu bisa buah paria atau kopi yang pahit tidak berbahaya. Mengeksplorasi apa yang belum dan yang sudah. Itu personifikasi waktu dan kemampuan untuk manusia meneruskan orang-orang yang sudah mati. Itu mulia sekali; dan apa yang saya lakukan saya disini; jika tidak ada facebook; youtube dan medsos lain apa kata Tuhan? Sangat tidakmasuk akal karena itu adalah kenyataan. Saya bicara politik; teknologi informasi ada masing-masing tempat yang sangat tepat; perkaranya saya sudah 19 tahun lebih itu adalah kenyataan yang saya hadapi dengan sangat prihatin; santai adalah upaya saya menulis. Itu adalah kerjasama dimana suka, teori kemungkinan semesta atau alam raya adalah persoalan yang sangat tendensius bagi saya dengan terkira ingin memberikan pengetahuan itu dengan normal sebagaimana saya melihat pemuda-pemuda Amerika atau Rusia dan Indonesia tapi disini saya sendiri. Buat apa saya sendiri sngat menjengkelkan bukan. Tekanan dan improvisasi yang terimajiner dengan kelayakan manusia biasa. Selalu begitu. Poinnya adalah perbedaan negara dan agama itu kadang membuat saya bingung. Komunikasi yang normal adalah komunikasi yang sangat hebat jika bicara bukan di mediasi yang terdapat teknologi ; baru setelah itu dibolehkan; tanpa logika semua orang tidak jenius; tapi dengan tanpa perasaan manusia yang sebenarnya bisa menjadi real friends menjadi ada hambatan yang manusia sendiri berdiri disana. Terima Kasih_my opinion.

Komentar

Postingan Populer